Pengertian Hukum Ohm dan Rumusnya

Pengertian Hukum Ohm dan Rumusnya

Hukum Ohm adalah salah satu hukum paling fundamental untuk teori kelistrikan. Rumus atau persamaan Hukum Ohm menghubungkan tegangan dan arus ke sifat-sifat konduktor, yaitu resistansinya dalam suatu rangkaian. Seperti apa sih pengertian dari Hukum Ohm dan bagaimana hukum ini ditemukan serta bagaimana rumusnya?

Pengertian Hukum Ohm

 Hukum Ohm adalah salah satu hukum paling mendasar dan penting untuk mengatur rangkaian listrik dan elektronik. Hukum ini berkaitan dengan arus, tegangan, dan hambatan untuk perangkat linier, sehingga jika dua diketahui, yang ketiga dapat dihitung.

Dengan arus, tegangan, dan resistansi menjadi tiga dari jumlah rangkaian utama, maka Hukum Ohm juga sangat penting. Hukum Ohm digunakan untuk menghitung nilai resistor yang diperlukan dalam rangkaian, dan juga dapat digunakan untuk menentukan arus yang mengalir dalam rangkaian di mana tegangan dapat diukur dengan mudah melintasi resistor yang diketahui.

Lebih dari itu, Hukum Ohm juga digunakan dalam sejumlah besar kalkulasi dan dalam segala bentuk rangkaian listrik dan elektronik  bahkan di mana pun arus itu mengalir. Hukum Ohm menjelaskan cara arus mengalir melalui material ketika berbagai level tegangan diterapkan.

Beberapa bahan seperti kabel listrik menghadirkan sedikit hambatan terhadap aliran arus dan jenis bahan ini disebut konduktor. Oleh karena itu, jika konduktor ini ditempatkan tepat di seberang baterai misalnya, banyak arus akan mengalir.

Baca juga : Majas Metafora

Dalam kasus lain, bahan lain mungkin menghalangi aliran arus, tetapi masih memungkinkan beberapa bahan lain. Dalam rangkaian listrik, komponen ini sering disebut resistor dan ada bahan lain yang tidak ada arus sekalipun yang kemudian disebut isolator.

Hukum ini menyamakan situasi listrik dengan aliran air dalam pipa. Tegangan diwakili oleh tekanan air pipa, arus diwakili oleh jumlah air yang mengalir melalui pipa, dan terakhir resistansinya setara dengan ukuran pipa.

Dapat dibayangkan bahwa semakin lebar pipa maka semakin banyak air yang mengalir. Ohm menentukan bahwa untuk bahan normal, menggandakan tegangan menggandakan aliran arus untuk komponen tertentu. Material yang berbeda atau material yang sama dengan bentuk yang berbeda akan menghadirkan tingkat hambatan yang berbeda terhadap aliran arus.

Hukum Ohm menyatakan bahwa arus yang mengalir dalam suatu rangkaian berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan dan berbanding terbalik dengan resistansi dalam rangkaian. Dengan kata lain dengan menggandakan tegangan di sirkuit, arus juga akan berlipat ganda. Namun jika resistensinya digandakan, arus akan turun setengahnya.

Penemuan Hukum Ohm

Ada hubungan matematis yang menghubungkan arus, tegangan dan hambatan. Seorang ilmuwan Jerman bernama Georg Ohm melakukan banyak percobaan untuk menunjukkan hubungan antara ketiganya. Pada hari-hari ketika dia melakukan percobaan, tidak ada meteran seperti yang manusia kenal sekarang.

Baca juga : Tokoh Sumpah Pemuda

Namun dengan usaha dan kerja keras, maka ia kemudian berhasil menemukan apa yang Anda kenal sekarang sebagai Hukum Ohm. Georg Ohm sendiri lahir di Erlangen, sekitar 50 mil utara Munich pada tahun 1879.

Georg Ohm kemudian menjadi salah satu orang yang menyelidiki banyak tentang ilmu baru yang terkait dengan listrik, menemukan hubungan antara tegangan dan arus dalam sebuah konduktor. Hukum  ini kemudian dinamai Hukum Ohm, untuk menghormati penemuan yang dia lakukan.

Rumus Hukum Ohm

Rumus atau persamaan Hukum Ohm sangat mudah. Hukum Ohm dapat diekspresikan dalam bentuk matematika:

V = IR

Dimana:

    V = tegangan dinyatakan dalam Volt

    I = arus yang dinyatakan dalam Amp

    R = resistansi dinyatakan dalam Ohm

Bagaimana? Sudahkah Anda memahami apa sih Hukum Ohm dan seperti apa rumusnya? Untuk anak IPA Hukum Ohm ini sudah menjadi rumus wajib untuk dihafal ya? Jadi, pelajari dengan sebaik mungkin.

Pengertian Tekanan Hidrostatis, Faktor yang Mempengaruhi dan Contoh-contohnya

Pengertian Tekanan Hidrostatis, Faktor yang Mempengaruhi dan Contoh-contohnya

Tekanan hidrostatis merupakan salah satu materi yang paling banyak digemari di bidang fisika.  Sebagaimana kita ketahui, tekanan zat terdiri dari dua macam, yaitu tekanan zat cair dan tekanan zat padat. Tekanan hidrostatis sendiri merupakan persamaan kata dari tekanan zat cair. Dalam fisika, tekanan zat cair atau tekanan hidrostatis diartikan sebagai tekanan di dalam zat cair diam yang terjadi karena zat cair tersebut dipengaruhi oleh kedalaman. Ilmu yang mempelajari mengenai zat cair diam disebut sebagai hidrostatika atau statika fluida.

Tekanan yang terjadi pada suatu titik dalam zat cair terjadi akibat gaya berat zat cair yang ada di atas titik tersebut. Gaya berat tersebut bekerja pada bidang dasar sebab adanya gaya gravitasi yang mengakibatkan adanya tekanan. Semakin banyak air yang ada di atas bidang dasar, maka akan semakin besar tekanan di bidang dasar tersebut. Tekanan akibat pengaruh gaya gravitasi itulah yang disebut dengan tekanan hidrostatis. Persamaan dari tekanan hidrostatis adalah sebagai berikut:

Persamaan Tekanan Hidrostatis

P = F . A

Keterangan:

P = tekanan hidrostatis

F = gaya berat zat cair

A = luas permukaan bejana

Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Hidrostatis

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya tekanan hidrostatis, yaitu:

  1. Masa Jenis Zat Cair (ρ)

Jika massa jenis suatu zat cair makin besar massa jenis, maka akan semakin besar pula tekanan hidrostatisnya. Misalnya, ada tiga jenis zat cair, yaitu air, minyak, dan larutan garam yang dimasukkan ke tiga wadah yang terpisah. Saat kita menunjuk titik dengan kedalaman yang sama pada masing-masing cairan, maka efeknya akan berbeda. Tekanan hidrostatis pada titik larutan garam akan lebih besar daripada air biasa. Sementara, tekanan hidrostatis air akan lebih besar dibanding minyak.

  1. Kedalaman Zat Cair (h)

Kedalaman zat cair juga mempengaruhi tekanan hidrostatis pada zat cair. Semakin jauh suatu titik dalam zat cair dari permukaannya, maka akan semakin besar tekanan hidrostatisnya. Maksudnya, tekanan hidrostatis akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman titik zat cair.

Misalnya, pada sebuah wadah diberi tiga lubang yang posisi ketinggiannya berbeda. Jarak pancaran air pada titik atau lubang yang paling bawah akan lebih jauh daripada titik yang berada si atasnya. Hal tersebut dikarenakan lubang yang paling bawah mengalami tekanan hidrostatis yang paling besar dibanding dua titik lain yang ada di atasnya.

  1. Percepatan Gravitasi (g)

Percepatan gravitasi juga dapat mempengaruhi tekanan hidrostatis pada zat cair. Percepatan gravitasi yang dikombinasikan dengan massa jenis zat cair, maka akan menghasilkan besaran berat zat cair (S). Persamaannya adalah sebagai berikut:

S = ρ . g

Keterangan:

S = berat jenis zat cair

ρ = massa jenis zat cair

g = percepatan gravitasi

Contoh Tekanan Hidrostatis

Sebenarnya ada banyak sekali contoh dari tekanan hidrostatis yang biasa kita temui di kehidupan sehari-hari. Namun, kerap kali kita tidak menyadari bahwa kejadian tersebut merupakan contoh dari  tekanan hidrostatis. Berikut ini beberapa contohnya agar kita makin memahami mengenai materi tekanan zat cair diam ini:

  1. Ketika kita menyelam di laut atau kolam, maka kita akan merasakan tekanan hidrostatis yang semakin besar jika kita menyelam semakin dalam.
  2. Dasar bendungan pada bagian bawah akan semakin tebal guna menahan tekanan zat cair yang semakin ke bawah semakin besar.
  3. Dalam pemasangan infus, semakin tinggi posisi botol infus, maka akan semakin besar tekanan yang terjadi. Hal ini membuat cairan infus dapat lebih mudah masuk ke aliran darah.

Itulah sedikit ulasan singkat tentang tekanan hidrostatis mulai dari persamaan hingga contoh dari tekanan itu sendiri. Dengan menyimak ulasan di atas, tentu Anda sudah bisa menjelaskan sedikit tentang apa itu pengertian dari tekanan hidrostatis tersebut. Semoga informasi di atas bermanfaat!